Akhirnya ke Lombok! Hari ke 1

Akhirnya.. selama 33 Tahun 4 Hari gue hidup, kaki ini mendarat juga di Lombok Praya International Airport #caileehh 😆😆

Rencana ke Lombok ini sebenarnya sudah dari 8 bulan yang lalu. Saat itu Bagol kepingin banget ikutan Lombok Marathon. Apa daya manusia boleh berencana namun Allah memutuskan, LOMBOK MARATHONNYA DIUNDUR DONG KE JANUARI hahahaha.

Hal ini dikarenakan erupsi dari Gunung Agung yang secara nggak langsung juga berakibat bagi pulau di sekitar Bali, termasuk Lombok. Namun kami juga sudah beres membeli tiket pesawat, hotel, juga sudah membayar lunas trip yang sudah direncanakan nanti. Maka apa boleh buat, kami tetap berangkat.... Here we go Lombok!

Emang sudah rejeki ke Lombok kayaknya, kita nyampe di Lombok jam 9 pagi, jam 9.15 Bandara ditutup karena erupsi. WAKWAWWW 😛😛

Karena baru pertama kali menginjakkan kaki di Lombok, maka selama 3 hari pertama kita menggunakan jasa sebuah private tour. Jadi itinerary setiap harinya pun akan lebih jelas dan kita tinggal duduk ataupun tertidur di mobil #Pemalas 😂

Maka berikut inilah itinerary hari pertama kita :

1. Desa Tenun Sukarare , Lombok

Di depan Desa Sukarare kita sudah disuguhi pemandangan seorang ibu yang sedang menenun. Diceritakan olehnya, kegiatan menenun adalah kemapuan wajib yang dimiliki oleh seorang perempuan di suku Sasak. Jika sudah terampil, barulah perempuan tersebut boleh menikah. Karena menurut masyarakat setempat, proses menenun akan melatih kesabaran dan ketekunan seseorang. Setelah gue mencobanya.... mungkin gue gak akan nikah nikah kalo terlahir di suku Sasak.... hahaha

Lagian gue bingung deh, masak iya kesabaran dan ketekunan seseorang hanya dimiliki perempuan aja. Lakinya gak perlu sabar dan tekun gitu?? udah pada ganteng bak foto model semua kali ya.. duduk duduk kipas kipas juga cukup ... #nyinyirkzl LOL



Setelah beres belajar menenun, kita disediakan pakaian adat suku Sasak agar kita bisa berfoto foto di rumah panggung buatan yang ada di lokasi.

Mungkin hanya tersedia sekitar 4 buh properti rumah adat agar pengunjung bisa berfoto foto seru. Sisanya isi Desa Sukarere adalah sebuah toko cukup besar yang berisi beragam tenun cantik asli lombok yang dijual untuk pengunjung. Gue sendiri nggak terlalu tertarik untuk membeli, suka bingung mau dipake kemana soalnya haha.


2. Desa Sade, Lombok Tengah


Kita kemudian berangkat ke sebuah Desa lainnya yang masih mempertahankan kehidupan Suku Sasak Asli di Lombok, yaitu, Desa Sade. Berbeda dari Desa Sukarere yang sebagian besar hanya terdapat properti foto, di Desa Sade ini, Suku Sasak betul betul tinggal di dalamnya.

Kehidupan asli tersebut sangat terlihat pada rumah yang mereka huni. Atapnya masih terbuat dari ijuk, dindingnya terbuat dari anyaman bambu tanpa paku, bahkan lantainya masih ada yang beralaskan tanah. Kamar mandinya sendiri terletak di luar. Satu kamar mandi bisa untuk 5 kepala keluarga.

Nah menurut pemandu kami kemarin, disini perempuan itu boleh menikah umur 14 tahun. Mereka menikah dengan sepupu sendiri karena isi Desa Sade memang dari keluarga yang semakin banyak karena antar sepupu dari mereka menikah.
Menikahnya dengan cara, si perempuan akan diculik oleh laki lakinya, setelah diketahui maka besok akan dinikahkan.

Miris denger umurnya :(

Gue senang belajar dan memperkenalkan budaya seperti ini kepada Kakak Adia. Sehingga dia tahu betapa negaranya itu sangat kaya , dan punya banyak hal yang patut dilihat dari segala sudut pandang. Walau setelah itu pertanyaannya jadi banyak banget...

"Umur berapa seharusnya kita boleh menikah bu?* *brb buka undang undang haha*

Di tengan rumah Bale Suku Sade

Selain memanen padi, Mereka juga masih berjualan untuk memenuhi nafkah sehari hari

Isi di dalam rumah Bale Suku Sasak Desa Sade

Lingkungan Suku Sasak Desa Sade
Photo spot in front of Desa Sade
3. Tanjung Aan Beach, Lombok

Beach time!
Adia langsung goler goler di pinggir pantai dengan baju lengkap, ibunya heboh gelar koper cari baju ganti dan handuk... haha

Pantai Tanjung Aan ini baguuusss... sepiii... airnya dangkal.. ombaknya tidak terlalu besar. Mungkin karena sebagian besar pantai di Lombok ini terletak di pesisir pantai yang landai dan dikelilingi oleh bukit sehingga seperti teluk gitu. Aman pokoknya buat anak anak.

Kita main sebentar disini sambil nggak berhenti berhenti berdecak kagum.

Kakak Adia yang happy ketemu pantai yang bagus dan bersih
Adek Carra yang jijik-an kena pasir gak mau main air. Makanya ia hanya main ayunan ini ajah


4. Bukit Merese

Tidak jauh dari pantai Tanjung Aan, ternyata ada sebuah Bukit yang membuat kita bisa melihat seluruh garis pantai Tanjung Aan tersebut dari atas. Namanya Bukit Merese.

Gue begitu happy jalan menanjak ke Bukit ini hanya ditempuh sekitar 10 menit saja, apalagi anak anak mau jalan sendiri! yang kedua ini adalah hal hal kecil dalam liburan yang bikin gue selalu bersyukur punya anak sehat dan mandiri juga punya jiwa petualang yang sama. Alhamdulillah

Disini gue juga senang melihat guide kita yang begitu ramah anak, namanya bang J (kependekan dari Jericho. Dia bilang nggak enak dipanggil Jer atau Cho jadi panggil J aja :D), dia nggak sungkan untuk membantu adek dan Kakak berjalan dan menikmati keindahan alam. Nggak jarang dia juga membantu kami berfoto foto. Anak anak pun langsung dekat sama Bang J.

Picture taken by Bang J
Demikian pula dengan ini :)

dan ini. Dia lari lari ke bawah sambil teriak. "TUNGGU DISITUUU! DIAAAMM! SAYA FOTO DARI BAWAH SINII!" LOL

Beres dari Bukit Merese kita makan siang di sebuah warung Padang terdekat yang satu paketnya hanya berharga 20,000 rupiah aja. Semua makan dengan lahap kecuali Adek yang sudah tertidur lelap, Maka gue membungkus makan siangnya dengan maksud nanti akan gue suapin di destinasi selanjutnya.

5. Pantai Mawun

Sebenarnya masih ada beberapa pantai yang masuk ke dalam itinerary, tapi kita bilang ke Bang J untuk santai aja menikmati, pilih yang terbaik aja dan nggak usah buru buru. Maka Pantai Mawun adalah pantai terakhir untuk hari ini.

Cuacanya sungguh pas. Saat itu sekitar jam setengah 4 sore. Mataharinya sejuk, ada bale untuk bersantai di pinggir pantai, dua buah es kelapa muda langsung dari buahnya, juga pantai yang sepi, bersih dan luar biasa bagusnya.



look those happy face!
Nggak seperti pantai Tanjung Aan, Pantai Mawun ini ada tempat bilas yang cukup memadai. (katanya Pantai Tanjung Aan memang sedang renovasi untuk lebih baik lagi)

Cukup memadai itu maksudnya bukan kayak kamar mandi hotel ya... haha. Airnya cukup bersih dari selang, kamar mandinya beralaskan semen seadanya, sedikit berlumut, namun OK. Kakak Adia sih biasa aja mandi disitu. Tapi anaknya temen gue Hartono yang sangat higienis mungkin akan susah hahaha

Adik Carra sendiri nangis nangis bilang jijik -_-

But afterall, We were all happy and content. Habis itu kita bersiap untuk ke Mataram dan membayangkan makan malam seekor Ayam Taliwang. Yeay!

6. Dinner : Ayam Taliwang + Plecing Kangkung dan Sop Bebalung

Ini dia penutup trip kita hari ini. Sebuah Ayam Taliwang (ayamnya kecil ya, jadi satu ekor memang idealnya cukup untuk satu orang) ditemani sebuah plecing kangkung nan pedas.

Liat dong betapa renyahnya kacang tanah ituuu!! Wellington Steak pun lewaatt hahaha







Lalu tadinya gue cukup bingung anak anak makan apa, karena Ayamnya sendiri sudah dibumbui pedas sehingga nggak mungkin dimakan oleh anak anak. Oalah ternyata Lombok juga punya Sop Bebalung! Sop Bebalung sebetulnya seperti sop iga sapi. Dagingnya sangat lembut sehingga bisa terlepas sendirinya dari tulang. Kuahnya lezat dan segar. Pas banget dengan favorit anak anak!

Gue sendiri makan pake ayam taliwang, plecing kangkung juga Sop bebalung -_-


Setelah rakus, saatnya untuk check in di hotel. Dua malam ini kita menginap di Kila Senggigi Hotel, selanjutnya seperti biasa akan dibahas di post terpisah ya!
Jam sudah menunjukkan pukul 7.30 malam. Sesuai dengan keinginan gue : Anak anak nggak terlalu capek, perjalanan nggak diburu buru, semuanya pas di hati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram